Saturday, 22 March 2008

Kongres PMII ke-XVI Kacau


Kongres ke XVI Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) yang diselenggarakan di Asrama Haji Batam pada tanggal 22 Maret 2008 ricuh. Agenda Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) oleh Pengurus Besar (PB) PMII tertunda lantaran sebagian pengurus cabang PMII daerah hamper beradu fisik.

Hujan interupsi yang terjadi sekitar pukul 14.00 WIB memberikan sinyal kemungkinan kegiatan kongres makin memanas yang sudah terasa sejak acara dimulai. Pimpinan sidang pun memberikan kesempatan kepada yang ingin angkat bicara. Suasana kemudian berubah menjadi gaduh dan memanas. Para peserta berebut pengeras suara. Mereka bahkan berusaha untuk maju mendekati pimpinan sidang.

Ketegangan itu dipicu pro-kontra antar peserta terkait masalah tempat penyampaian LPJ. Dalam sidang kemarin, ada dua agenda penyampaian LPJ. Selain dari PB PMII, juga Korpri (Korps PMII Putri). Nah, pimpinan sidang menawarkan ke peserta. Apakah LPJ dilakukan di satu tempat atau terpisah.

Opsi itulah yang memicu perdebatan panjang. Para peserta sontak berdiri, adu pendapat, dan saling tunjuk. Bahkan, terlihat peserta merampas mik yang sedang dipegang peserta lain. Tak pelak, peserta itu pun marah dan nyaris melemparkan pengeras suara tersebut ke arah peserta yang meneriakinya. Karena suasana di ruang sidang kian panas, Barisan Anggota Serbaguna (Banser) maupun panitia pelaksana berusaha menertibkan jalannya sidang. Namun usaha mereka tidak begitu berhasil, sebagian peserta justru maju dan berkumpul di depan. Ada yang berteriak-teriak dan ada pula yang saling menantang untuk berkelahi secara fisik. Sebagian lainnya berusaha melerai. Suasana sidang pun menjadi kacau.

Usaha yang dilakukan oleh Ketua Panitia, Sudianto, untuk meredam emosi peserta hanya berhasil untuk sejenak. Sidang kembali ricuh saat pimpinan sidang menanyakan apakah para peserta setuju penyampaian LPJ dilaksanakan di satu tempat saja. Ketegangan memuncak ketika pengurus cabang asal Makassar tiba-tiba maju menyatakan keberatan. Sikap itu mendapat perlawanan dari pengurus cabang lain. Kericuhan akhirnya tak terbendung. Melihat suasana yang tidak kondusif, pimpinan sidang terpaksa menyelamatkan diri setelah sebelumnya sempat mengetukkan palu.